PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Kehidupan manusia kian hari semakin
komplek dan sarat dengan permasalahan. Kehadiran media IT diharapkan mampu
memberikan nilai positif bagi proses kehidupan manusia yang semakin
kompleks.Peran media IT lainnya juga adalah memberikan pencerahan bagi poses
pencerdasan bangsa. Karena dengan bangsa yang cerdas tentunya akan menaikkan
martabat dan taraf hidup bangsa.
Dalam kehidupan suatu negara,
pendidikan memegang peranan yang sangat penting seperti yang telah ditulis
diatas. Upaya ini karena pendidikan adalah wahana untuk meningkatkan dan
mengembangkan sumber daya manusia. Seiring dengan perkembangan tekhnologi
computer dan teknologi informasi. Sekolah-sekolah di Indonesia sudah waktunya
mengembangkan system informasi manajemennya agar mampu mengikuti perkembangan
zaman
Inilah kenapa seorang guru harus
pandai mengakses, mengolah dan menyajikan secara kreatif dalam menyampaikan
informasi yang berupa bahan ajar kepada peserta didik. Kemampuan guru sebagai
sumber daya manusia dalam teknologi informasi computer mulai dari keterampilan
dan pengetahuan yang cukup mapan, perencanaan, pengoperasian, perawatan dan
pengawasan perlu dan penting untuk ditingkatkan. Sehingga nantinya akan
menghasilkan output yang sangat bermanfaat bagi manusia itu sendiri maupun bagi
semua sector kehidupan. ( Kompasiana ).
PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM
PEMBELAJARAN KIMIA
E-learning pada pembelajaran di
sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains telah diterapkan sejak beberapa
tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga
sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi informasi kepada peserta didik.
Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih kurang optimal. Bahkan sebagian
orang beranggapan bahwa penerapan e-learning hanya sekedar
mengikuti trend saja tanpa menghiraukan apakah tujuan
pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itu, penelitian atau kajian
pustaka tentang implementasi e-learning khususnya pada
pembelajaran sains perlu terus dilakukan.
Pengertian e-learning pada umumnya terfokus
pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut
Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran
melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite
broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based
training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai
seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau
Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses
pembelajaran. Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM (Anderson, 2005).
Pembelajaran berbasis web adalah
proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet,
sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Internet merupakan jaringan
yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan
lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan
jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang
dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pendidikan.
Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup,
Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW).
Model Pengembangan Pembelajaran
Berbasis Web
Salah satu model pembelajaran
berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model
yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis,
desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis
masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain
pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai
komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran
berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan
implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi
formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran
untuk web based learning dirancang sedemikian rupa agar proses
pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen
pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning
tasks, learning resources, dan learning supports. Learning tasks
mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning
resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses
oleh peserta didik. Learning supports terkait dengan petunjuk belajar,
motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik.
Pengembangan model pembelajaran berbasis
web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama
dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal
pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan
aktivitas tindak lanjut.Aktivitas awal
pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan
tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian
materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan
umpan balik. Penilaian dapat berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest.
Aktivitas tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat
terhadap materi pembelajaran.
Soekartawi (2003) menyarankan beberapa tahap yang
perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis web.
Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis kebutuhan, rancangan instruksional,
pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan
adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus
disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan
instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan
analisis komponen pembelajaran lainnya. Pengembangan e-learning merupakan
proses produksi program dengan mengintegrasikan berbagai software dan hardware
yang diperlukan. Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah
dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi
diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas
dan efektivitas program sebelum diimplementasikan secara formal.
SUMBER
Anderson, B. 2005. “Strategic e-learning implementation.” Educational
Technology & Society, 8 (4), 1-8. 1. ISSN 1436-4522
Alberts, P.
P., Murray, L. A., Griffin, D. K., & Stephenseon, J. E. 2007. Blended
Learning: Beyond Web Page Design for the Delivery of Content. Dalam Joseph
Fong & Fu Lee Wang (Eds.), Prosiding Workshop on Blended Learning (hlm.
53-65), Edinburgh, 15-17 Agustus 2007.
Soekartawi, 2003 . Meningkatkan Efektivitas Mengajar. Jakarta : Pustaka Jaya
Soekartawi, 2003 . Meningkatkan Efektivitas Mengajar. Jakarta : Pustaka Jaya
Permasalahan
1. Kenapa Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan
komponen strategi pembelajaran. Dan strategi apa yang akan anda gunakan
dalam mengajar nanti dengan menggunakan media e-learning?
2. Dari e-learning yang dibuat apa saja kelemahan dari e-learning
tersebut dan bagaimana cara untuk menanggulanginya? Jelaskan.
3. Bagaimana proses evaluasi dalam pembelajaran e-learning ?
4. Menurut anda apakah pembelajaran e-learning selalu memiliki dampak
yang baik? jika tidak berarti ada dampak negatifnya bukan, coba berikan
apa dampak negatifnya?