Kamis, 10 Mei 2018

REVOLUSI INDUSTRI ERA 4.0

REVOLUSI INDUSTRI ERA 4.0


Pada era sekarang ini, khususnya di Indonesia tidak dapat lepas dari yang namanya teknologi, kemampuan digital komputerisasi internet sangat diperlukan pada saat sekarang ini. Generasi muda diharuskan memiliki skill dan kemampuan yang mumpuni dalam bidang teknologi, selain keterampilan pendukung lainnya. Pada saat sekarang ini, dunia kerja terbuka sangat luas, segala jenis infomasi dapat diperoleh dengan sangat mudah, mencakup seluruh aspek kehidupan dimuka bumi.
            Pada postingan kali ini, kita akan membahas mengenai era revolusi industry 4.0 , tentunya sebelum adanya era revolusi keempat ini adanya era pertama, kedua dan ketiga, yang mana masing-masing memiliki point utamanya sendiri-sendiri, lantas apa itu era revolusi industry 4.0 ?
Saat ini, kita hidup di era Revolusi Industri Keempat (Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution(2017)). Era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, inovasi, dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan eksponensial yang akan mengakibatkan dampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, politik, bahkan membuka perdebatan atas definisi manusia itu sendiri. Era yang menegaskan dunia sebagai kampung global (Marshall McLuhan, The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962)). berdikarionline.com
Tantangan Indonesia
Di Indonesia sendiri, kehadiran Revolusi Industri Keempat muncul kepermukaan dan menyentak kesadaran publik saat terjadi pertarungan kepentingan antara taksi konvensional versus taksi online pada tahun 2016. Kendati sebelumnya telah ada sinyal bahwa Indonesia tidak bisa lepas dari dampak dari revolusi ini. 2011, Grup Djarum melalui PT Global Digital Prima melakukan kerja sama strategis bernilai ratusan miliar bersama Kaskus, sebuah situs perdangangan terbesar di Indonesia (http://bit.ly/2HqNJPV). Beberapa bulan sebelumnya, portal berita detik.com dibeli oleh Grup Para milik Taipan Chairul Tanjung seharga Rp540 miliar.
Dampak kehadiran revolusi ini dapat dilihat melaui Aksi 212 ketika jutaan umat islam melakukan demonstasi dipersatukan isu penistaan agama (http://bit.ly/2of7jGh). Lebih kurang selama satu bulan sebelum aksi puncak, terjadi perdebatan, sosialisasi, maupun pengorganisasian lewat media sosial. Kita menyaksikan bagaimana teknologi menunjukkan kuasanya, bahkan mendorong, bahwa pengkategorian secara sosilogis atas islam santri-abangan mulai tidak relevan lagi pada era ini. Yang tak kalah mengejutkan adalah pergeseran persepsi masyarakat terhadap Front Pembela Islam. Berdasarkan penelitian Arie Setyaningrum Pamungkas dan Gita Octaviani, gerakan ini memunculkan suatu potensi ancaman pada trandisi demokrasi Indonesia karena berbasis tribalisme, dimana nasionalisme diterjemahkan secara “sempit” menjadi nasionalisme yang didasari oleh pemusatan identitas etnis dan keagamaan (http://bit.ly/2BAmp1h).
Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, dunia kini memasuki era Revolusi Industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economyartificial intelligencebig datarobotic, dan lain sebagainya atau yang dikenal dengan fenomena disruptive innovation. ksp.go.id
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyatakan menghadapi revolusi industri 4.0, saatnya universitas sebagai roda penggerak inovasi dan pengembangan teknologi dengan pendekatan Triple Helix dalam hilirisasi riset, yaitu sinergi antara pemerintah, swasta dan perguruan tinggi. ekonomi.metrotvnews.com . Sri Mulyani membicarakan tentang era revolusi industri 4.0 yang mempunyai ciri otomasi dan ekonomi digital. Perkembangan supercomputer, robot, artificial intelligence, dan modifikasi genetik mengakibatkan pergeseran tren tenaga kerja, yang tidak lagi bergantung pada tenaga manusia, tapi pada mesin.
Studi dari McKinsey (2016) menyebutkan bahwa pada lima tahun ke depan sebesar 52,6 juta jenis pekerjaan akan digantikan oleh mesin. Hal tersebut mengikuti tren global di mana 60 persen pekerjaan akan mengadopsi sistem otomatisasi, dan 30 persen akan menggunakan mesin berteknologi digital. Ini berdampak pada pergeseran tren dunia dari sektor manufaktur ke sektor jasa yang membutuhkan tenaga kerja jenis middle-higher skilled, bukan lagi low-skilled labour.
Di sisi lain, revolusi industri 4.0 juga membuka peluang baru. Indonesia dengan demografi penduduk yang sebagian besar berada di usia produktif dan kelas menengah, serta status sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, mempunyai potensi sebagai pemimpin e-commerce dalam era ekonomi digital.
Persaingan global semakin ketat di tengah derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era Revolusi Industri 4.0. Semua negara berlomba-lomba untuk melahirkan invensi dan inovasi dengan memperkuat riset dan mutu pendidikan tinggi. Sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan daya saing tinggi menjadi kunci untuk memenangkan kompetisi di era Revolusi Industri 4.0 ini. ristekdikti.go.id .

Revolusi Industri 4.0, Perguruan Tinggi Diminta Siapkan SDM Kompeten

Perguruan tinggi di Indonesia harus mengantisipasi semakin pesatnya perkembangan teknologi yang terjadi dalam era revolusi industri 4.0. Kurikulum dan metode pendidikan pun harus menyesuaikan dengan iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif dan mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Dunia kerja di era revolusi industri 4.0 merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi. Karakteristik revolusi industri 4.0 ini meliputi digitalisasi, optimalisasi dan kustomisasi produksi, otomasi dan adapsi, human machine interaction, value added services and businesses, automatic data exchange and communication, dan penggunaan teknologi internet.
Berbicara masalah peningkatan kualitas SDM Indonesia, ada 3 hal yang yang perlu diperhatikan semua pihak. Yang pertama adalah kualitas SDM, "Yaitu bagaimana memastikan agar kualitas dari SDM kita ini sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sesuai dengan industri yang berbasis teknologi digital," Yang kedua, adalah masalah kuantitas yaitu jumlahnya pekerja atau SDM yang berkualitas dan kompeten serta sesuai kebutuhan industri. Yang ketiga, lokasi yaitu masih kurang meratanya sebaran SDM yang berkualitas terutama di daerah-daerah. finance.detik.com

PERMASALAHAN
1. Kita sadari bahwa sekarang era digital sangat pesat di Indonesia, bahkan segala sesuatu keperluan kita dapat didapatkan hanya dengan menggerakkan jari saja, atau dapat dikatakan Online, Bagaimana menurut pandangan anda mengenai hal ini, apakah yang dapat anda gambarkan mengenai kelanjutan dari industry era 4.0 ini ?
2. Kita ketahui dari banyaknya kelebihan dan manfaat adanya revolusi industry 4.o, tentu ada dampak negatifnya, coba jelaskan dampak negative apa saja yang telah terjadi dengan adanya era revolusi indutri 4.0 ?
3.Ada 3 hal yang yang perlu diperhatikan semua pihak. Yang pertama adalah kualitas SDM, "Yaitu bagaimana memastikan agar kualitas dari SDM kita ini sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sesuai dengan industri yang berbasis teknologi digital," Yang kedua, adalah masalah kuantitas yaitu jumlahnya pekerja atau SDM yang berkualitas dan kompeten serta sesuai kebutuhan industri. Yang ketiga, lokasi yaitu masih kurang meratanya sebaran SDM yang berkualitas terutama di daerah-daerah. Dari ketiga masalah peningkatan kualitas SDM Indonesia, langkah jitu apa yang perlu dilakukan agar didapatkan SDM Indonesia yang berkualitas tinggi ?
4. Jika memiliki sebuah pilihan, pada era revolusi ke 4 ini hal apa yang perlu dijadikan point penting untuk mendapatkan kesuksesan, berikan pandangan anda ?